Pada tanggal 16 Maret 2013, BEM Prodi Pengembangan Masyarakat Islam STAI Mathaliul Falah bekerjasama dengan manajemen Prodi PMI meyelenggarakan acara workshop bertema “Mengenal Lebih Dekat Pengembangan Masyarakat dan Modal Sosial” yang dihadiri oleh pelajar tingkat Aliyah (SMA). Workshop ini diselenggarakan atas dasar kegelisahan, bahwa selama ini Pengembangan Masyarakat banyak disalahpahami sebagai sekedar orasi. Sehingga diperlukan media edukasi yang tepat untuk meluruskan kesalahpahaman yang sudah terlanjur terjadi.
Jika dibahas lebih lanjut, maka usaha mengedukasi masyarakat tentang identitas PMI yang sejati ini akan lebih efektif jika ditujukan pada para pelajar yang merupakan konsumen dari pendidikan itu sendiri. Dengan pemahaman yang benar mengenai Pengembangan Masyarakat oleh pelajar secara luas, diharapkan kesalahpahaman yang sangat banyak terjadi di masyarakat secara bertahap dapat dikurangi dan kemudian hilang samasekali.
Selanjutnya selain pengenalan mengenai identitas asli prodi PMI, dalam kesempatan kali ini juga dimulai usaha penguatan modal sosial antar pelajar Madrasah Aliyah yang ada di kabupaten Pati, sehingga para pelajar ini tidak lagi hanya saling mengenal dalam persaingan yang terkadang tidak sehat, tapi dapat membangun jaringan antar pelajar yang selanjutnya juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Secara umum, modal sosial dapat dipahami sebagai kemampuan komunitas (dalam hal ini pelajar) untuk menjalin hubungan satu sama lain dan selanjutnya menjadi kekuatan yang sangat penting dalam berbagai atau bahkan seluruh aspek kehidupan. Baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan segala hal yang mendukung eksistensi komunitas. Eksistensi komunitas ini kemudian juga mengarah pada usaha pemandirian komunitas.
Dalam sambutan ketua Prodi PMI, Ibu Sri Naharin menyambut hangat dan mengapresiasi siswa-siswi yang hadir dan menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan awal dari munculnya kesadaran belajar manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, perlu ditindak lanjuti dengan pendalaman pengetahuan dan wawasan melalui tukar pengalaman dan pandangan, selanjutnya dapat dibentuk ikatan pelaajar sosial yang mampu melakukan kegiatan-kegiatan bersifat sosial, bahkan dalam skala besar. Sekaligus dalam kesempatan ini ketua Prodi PMI memperkenalkan profil Prodi PMI Staimafa dan mahasiswanya, termasuk prospek lulusannya. Menggambarkan profil masyarakat-masyarakat dampingan Prodi PMI Staimafa yang memiliki dinamika sosial masing masing. Melalui penggambaran ini siswa-siswi diberikan gambaran mengenai kegiatan sosial dan belajar mahasiswa di masyarakat. Siswa-siswi yang hadir diharapkan dapat menjalin silaturrahin dengan sivitas akademika Prodi PMI Staimafa.
Selanjutnya pada sesi inti diputar film dokumenter yang mengisahkan tentang perjuangan kepala suku di Maluku yang membangkitkan kesadaran komunitasnya untuk terus memperbaiki taraf hidup. Dalam paparannya, narasumber menjelaskan tentang pengembangan masyarakat (Community Development) yang dipahami sebagai pemberdayaan, yaitu memberikan kekuatan sebagai upaya menumbuhkan kekuasaan dalam diri masyarakat dan meningkatkan posisi tawar masyarakat, sehingga mereka mampu menghadapi kesenjangan dan ketidak adilan kondisi di wilayah mereka oleh kelompok lain yang lebih berkuasa atau memiliki kekuatan yang lebih besar dengan teknologi yang dimiliki. Bahwa masyarakat akan menemukan kekuatan terbesarnya ketika mereka berkelompok. Sehingga mereka dapat mengeluarkan dirinya sendiri dari segala macam kondisi pemiskinan oleh kelompok lain yang datang di wilayah mereka.
Antusiasme peserta sangat tinggi dalam forum ini, hal ini dapat dilihat dari sesi lanjutan berupa diskusi yang begitu hidup dengan argumen-argumen dan pertanyaan yang dilontarkan peserta. Sehingga kemudian peserta memahami bahwa Pengembngan Masyarakat adalah tempat di mana mereka dapat berbahagia oleh sebab membahagiakan dan bermanfaat bagi orang lain. Jika dihubugkan dengan kajian tentang masyarakat, maka kebermanfaatan ini dapat diwujudkan dalam usaha pemandirian masyarakat dari segala belenggu yang menghambat kesejahteraan, yang menjadi tujuan dari pemberdayaan masyarakat.
Dalam forum ini pula, dicapai kesepakatan untuk membentuk wadah bagi peserta untuk terus menjalin kerjasama antar sekolah dan melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Forum ini disepakati dengan nama ‘Forum Komunikasi antar Siswa’ alias FORKAIS yang dicita-citakan menjadi wadah perwujudan komitmen untuk terus berkarya nyata.
Share To:

Post A Comment:

0 comments so far,add yours