Header Ads

Header Ads

Mahasiswa PMI Ipmafa Kunjungi Situs Budaya di Rendole Pati dan Pati Ayam Kudus

Margoyoso, Pati. Baru-baru ini (12/03/2019) Prodi PMI IPMAFA Margoyoso Pati beserta para mahasiswa mengunjungi situs budaya dan sejarah di Desa Rendole Margorejo Pati dan di Pati Ayam Kudus. Kegiatan ini bertujuan untuk mempelajari akar sejarah yang ada di Kabupaten Pati yang memiliki historis yang cukup panjang. Begitu juga, saat kunjungan ke Pati Ayam Kudus, para mahasiswa juga mendapatkan bukti bahwa dulu di wilayah ini pernah dihuni oleh peradaban pra-sejarah.

Pada saat berkunjung ke Desa Rendole, para mahasiswa diajak untuk melihat secara langsung pintu gerbang Majapahit dan mendapatkan penjelasan dari salah satu sejarawan Desa Rendole Bapak Widiyantoro. Beliau menjelaskan bahwa keberadaan pintu gerbang Majapahit ada hubungannya dengan Sunan Muria dan Mbah Ki Ageng Sebo Menggolo sebagai salah satu guru dari Sunan Muria yang makamnya juga berada di Desa Rendole.

Dari penuturan Mbah Wid, sapaan dari Widiyantoro, dapat disimpulkan bahwa paska runtuhnya Majapahit banyak para Senopati dari Majapahit akhirnya mencari daerah baru untuk menjadi tujuan hidup mereka, diantaranya adalah Mbah Ki Ageng Sebo Menggolo yang masih keturunan dari Brawijaya V juga memilih Pati sebagai tempat menetapnya. Dan, keberadaan pintu gerbang Majapahit di Desa Rendole tidak lepas dari peranan beliau melalui cucunya Kebo Nyabrang yang membawa pintu gerbang tersebut dari Majapahit ke Rendole dengan segala cerita mistis di dalamnya. Artinya, Pati dulunya diisi oleh orang-orang hebat dimana hal itu menjadi salah satu pembentuk karakter budaya yang ada di Pati sampai sekarang.

Setelah dari Desa Rendole, rombongan dari PMI IPMAFA melanjutkan kunjungannya ke situs Pati Ayam di Kudus, di museum tersebut para mahasiswa memperoleh informasi bahwa di wilayah Pati Ayam yang sebagian wilayahnya masuk di Kabupaten Pati dan sebagian lagi di wilayah Kudus dulunya menjadi salah satu pusat kehidupan purba. Hal itu dibuktikan dengan penemuan-penemuan hewan-hewan purba dan manusia purba, baik itu berupa tulang-tulang hewan-hewan purba maupun benda-benda budaya manusia purba, seperti kapak dan alat-alat yang lain.

Dari kunjungan tersebut para mahasiswa diharapkan bila orang Jawa Bilang tidak “pedot oyot”, mengerti akan sejarah nusantara, dan khususnya mengerti sejarah dari Kabupaten Pati itu sendiri agar nantinya dapat digunakan untuk mempelajari budaya kehidupan manusia yang tentunya itu semua memiliki kesinambungan sampai sekarang.