PATI— Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (STAIMAFA) serius mengaktualisasikan visi sebagai kampus riset. Untuk mendukung hal ini, Program Pendidikan (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) STAIMAFA, mengagendakan workshop Research and Development (R&D), pada Sabtu (28/02/2014), di auditorium kampus STAIMAFA, Purworejo, Margoyoso Pati.
Agenda ini menghadirkan narasumber Dr. H. Abdul Karim, M.Pd, sebagai dosen, peneliti dan anggota Dewan Riset Daerah. Pada acara ini, diikuti oleh dosen-dosen dan mahasiswa STAIMAFA, juga mengundang lembaga-lembaga yang selama ini menjadi kolega kampus.
Menurut Ketua Jurusan PMI STAIMAFA, Sri Naharin, M.Ag, bahwa kegiatan ini memiliki dua agenda mendasar, yang selama ini menjadi fokus dari kegiatan akademik kampus. “Pertama, workshop ini untuk membumikan visi-misi STAIMAFA, sebagai kampus berbasis riset. Kedua, sebagai forum untuk mendesain rumusan-rumusan mendasar terkait dengan metode riset dari mahasiswa-mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam. Kami ingin, agar riset-riset kami juga berdasarkan konsep yang komprehensif dan dapat diaktualisasikan secara maksimal,” terang Naharin.
Selama ini, ungkap Naharin, STAIMAFA berkonsentrasi untuk tidak sekedar mengembangan teori pembelajaran dan keilmuan. Akan tetapi, juga mempraktikkan langsung dengan program pemberdayaan masyarakat. “Pengembangan masyarakat dengan model research and development sangat penting, karena tidak konsep dan aplikasinya tergarap secara sistematis,” ungkap Naharin.
Dalam waktu mendatang, tambah Naharin, STAIMAFA berkeinginan untuk menjadikan kampus sebagai pusat penelitian dan pengembangan masyarakat. Dengan demikian, kampus menjadi ruang berkumpulnya akademisi, aktifis, pemerintah dan elemen yang lain, untuk bersama-sama mencerdaskan masyarakat.
Pada agenda ini, Dr. H. Abdul Karim, M.Pd, mengemukakan tentang konsep-konsep utama yang terkait dengan pengembangan riset di kampus. “Sebenarnya, agenda workshop ini adalah upaya untuk mendesain konsep riset yang komprehensif dan aplikatif. Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh kampus, melalui mahasiswa dan dosen, bertujuan untuk mengembangkan potensi dan menghadirkan solusi,” tegas Abdul Karim.
Selama ini, ungkap Karim, agenda-agenda pengembangan masyarakat tidak banyak yang didasari dengan konsep yang jelas. “Konflik yang terjadi di masyarakat, misalnya dalam isu lingkungan maupun ekonomi—lebih banyak karena kerancuan konsep dalam pendampingan dan pengembangan. Dengan demikian, isu-isu yang muncul justru negatif, karena tidak dibarengi dengan konsep pendampingan masyarakat,” jelas Karim. Dari workshop ini, diupayakan muncul konsep-konsep strategis untuk pengembangan masyarakat di kawasan lereng Muria, yang dikawal oleh dosen dan mahasiswa STAIMAFA.
Share To:

Post A Comment: