Top News


Pati (14/10/2017) "Focus Grup Discusion (FGD) merupakan diskusi kelompok terfokus dalam suatu proses pengumpulan informasi mengenai suatu masalah dengan spesifik pada suatu desa", tutur Nur Khoiriyah MA dalam simulasi proses FGD pada mata kuliah Participatory Rural Appraisal (PRA). 

Teknik ini menjadi inti dalam Program Studi (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) mengingat dalam proses pemberdayaan masyarakat kita harus mengetahui kondisi atau permasalahan yang dihadapi oleh suatu desa sehingga ini merupakan salah satu langkah awal dari pemetaan sosial (sosial maping).


Lebih lanjut Khoir membekali mahasiswa agar dalam proses FGD, pegiat sosial harus menggunakan bahasa yang dapat diterima masyarakat. "Gunakan bahasa fasilitator yang dapat memahamkan masyaraakat", tuturnya.


Siti Nihayatul Maunah selaku mahasiswa yang bertugas menjadi fasilitator mengaku sangat terbantu dengan adanya simulasi ini karena dapat menjadi wadah untuk belajar, karena menghadapi masyarakat yang beragam butuh kedisiplinan dan kepekaan yang tinggi . (Rofiq)

Pati, (28/9/2017) Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Prodi PMI) Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) dan HMPS PMI IPMAFA mengadakan acara Mujahadah & Maulidurrasul dalam rangka memperingati milad Prodi PMI ke-9 (8 Muharrom 1439 H).

Acara yang bertempat di auditorium IPMAFA ini diisi oleh Bapak Faiz Aminuddin MA, Kaprodi PMI dan dihadiri puluhan mahasiswa PMI lintas semester.

Pada sambutannya Bapak Faiz berharap agar semua pihak yang terlibat dalam Prodi PMI mendapatkan ilmu yang barokah dan bermanfaat. Ia juga berpesan agar para mahasiswa PMI tetap semangat sebagai kader pengembang masyarakat.

Acara mujahadah dikemas dalam serangkaian dzikir bersama dan Maulidurrasul SAW dengan iringan rebana Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jqh El-Mafa Ipmafa.

Margoyoso, Pati. Kamis (14/09/17) Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Kajen Pati mengadakan acara sarasehan yang bertema “Mengenal PMI Untuk Menata Masa Depan”. Bertempat di aula IPMAFA lantai II, puluhan mahasiswa-mahasiswi yang terdiri dari mahasiswa baru maupun perwakilan mahasiswa PMI lintas angkatan sampai perwakilan para alumni kumpul jadi satu untuk menjadikan Prodi PMI sebagai wadah penguatan intelektual maupun sebagai wadah kebersamaan.

Tujuan digelarnya sarasehan ini dalam rangka memberikan penjelasan mengenai sejarah lahirnya PMI IPMAFA kepada para mahasiswa khususnya para mahasiswa baru di Prodi PMI IPMAFA. Selain itu, membekali para mahasiswa agar nantinya memahami apa yang harus dilakukan sebagai mahasiswa PMI dan kontribusi apa yang harus diabdikan kepada masyarakat.

Sebagai pemateri dalam sarasehan tersebut adalah Faiz Aminuddin, MA selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) PMI IPMAFA. Dalam kesempatan itu, Kaprodi PMI IPMAFA mencoba merefleksikan sejarah lahirnya Prodi PMI di IPMAFA. Di mana latar belakang pendirian Prodi PMI di IPMAFA dilandasi dan diawali oleh kegiatan pengembangan masyarakat yang telah dilakukan oleh Pesantren Maslakul Huda Kajen Margoyoso Pati yang diasuh oleh almaghfurlah KH. Sahal Mahfudz mantan Rois Am PBNU melalui Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM) di era 80-an. KH. Sahal Mahfudz sendiri merupakan pendiri dari Institut Pesantren Mathali’ul Falah atau diawal berdiri masih bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (STAIMAFA) Margoyoso Pati Jawa Tengah.

Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat yang dimiliki oleh Pesantren Maslakul Huda telah berhasil memberikan dampak positif melalui bantuan pelatihan, modal dan pendampingan kepada masyarakat tidak mampu. Banyak masyarakat yang dulu kualitas ekonominya rendah berhasil menjadi simpul-simpul ekonomi baru di desanya. Dengan jangkauan pergerakan biro ini yang semakin berkembang dan keberadaannya semakin dirasakan oleh masyarakat luas, menyadarkan stake holders di lingkungan pesantren di Kota Santri Kajen Pati akan pentingnya sumber daya manusia yang cakap di bidang pemberdayaan masyarakat.

Lebih Lanjut, Ketua LTN PCNU Kab. Pati ini juga menambahkan bahwa, untuk itulah saat Perguruan Tinggi IPMAFA akan didirikan, maka munculah gagasan untuk memasukkan salah satu prodi yang memiliki concern pada ranah pemberdayaan masyarakat. Karena para stake holder sudah memahami ternyata pemberdayaan masyarakat memiliki pengaruh cukup besar dalam memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat baik di masa kini maupun di masa yang akan datang, sehingga perlu kiranya memperbanyak kader-kader pemberdaya masyarakat dengan harapan spirit pemberdayaan bisa menyebar kemana-kemana sehingga masyarakat dapat meningkat kualitas kehidupannya.

Akhirnya, para pendiri IPMAFA termasuk KH. Sahal Mahfudz melalui musyawarah yang mendalam sepakat untuk memasukkan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam sebagai langkah untuk mencetak kader-kader pemberdaya masyarakat yang nantinya dapat menyebarkan dan melanjutkan kiprah serta spirit dari Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat yang dirintis oleh KH. Sahal Mahfudz. Tujuan utamanya yaitu membangun sumber daya manusia yang cakap dan terampil dalam memberdayakan masyarakat dengan berbasis nilai-nilai pesantren. “Tutupnya”.


Sebelum ditutup, di sesi akhir sarasehan semua peserta yang hadir memperkenalkan diri sebagai simbol persaudaraan, semua mahasiswa-mahasiswi yang hadir berdiri satu per-satu untuk memperkenalkan diri dengan penuh kekeluargaan, dan semua peserta dari awal sampai akhir tampak antusias mengikuti sarasehan dari Prodi PMI IPMAFA.
Oleh: Faiz Aminuddin, MA*

Nabi Muhammad SAW merupakan sosok luar biasa yang menarik untuk dipelajari, terlebih perjalanan hidupnya sejak kecil sampai dewasa yang secara umum dapat diduplikasi oleh siapapun, termasuk untuk menduplikasi kesuksesan Nabi SAW dalam berdagang atau berentrepreneur. Di mana semua langkah yang dilakukannya berangkat dari sebuah proses, sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW mengawali semua kesuksesannya dari nol, bukan karena warisan ataupun pemberian. Hal itu tercermin dari kisah beliau yang sejak usia 6 tahun sudah yatim piatu, dan di usia 8 tahun harus ditinggal kakeknya untuk selama-lamanya, setelah itu ia tinggal bersama pamannya Abu Thalib.
Semenjak saat itu Muhammad kecil menjadi penggembala kambing sebagai cara untuk mandiri, bisa dibayangkan bahwa anak sekecil itu harus mencari kehidupannya sendiri. Bahkan di usia 12 tahun, Muhammad muda sudah harus berdagang ke berbagai daerah untuk menemani pamannya. Namun tanpa disadari, langkah tersebut justru menempa kemampuan entrepreneur Nabi SAW. Karena berangkat dari jalan itulah Muhammad muda mendapatkan ilmu serta pengalaman yang sangat berharga dalam mengembangkan kemampuan berdagangnya.
Singkat cerita, tidak butuh lama Muhammad muda menjadi salah satu pedagang sukses di Jazirah Arab pada waktu itu. Di usia 17 tahun, Muhammad muda sudah masuk kategori entrepreneur besar dengan jalur perdagangan lintas negara, atau kalau bahasa sekarang sudah bermain ekspor-impor. Selain karena keuletan dan kerja kerasnya, modal utama kesuksesannya dalam dunia entrepreneur adalah konsistensi dalam membangun trust sehingga wajar bila Muhammad muda akhirnya mendapatkan julukan Al-Amin (dapat dipercaya). Prinsip yang dibangun Muhammad muda yaitu jangan sampai mendapatkan uang dari cara-cara yang bathil, seperti menipu, curang, mengurangi timbangan dan lain sebagainya.
Menariknya lagi, saat berada di puncak kejayaan sebagai seorang entrepreneur, Muhammad muda tetap menjadi sosok sederhana, gemar berbagi, tidak sombong, lebih mementingkan orang lain, dan tidak pernah memamerkan capaian-capaian yang sudah diraihnya. Jejak-jejak menawan itulah, menjadikan mitra atau partner bisnis Muhammad yang bernama Siti Khodijah tertarik dan ingin menikah dengan Muhammad. Siti Khodijah sendiri merupakan seorang janda kaya raya, ia berangkat dari keluarga terkemuka dan terhormat di kalangan penduduk Makkah. Bersatunya kedua sosok tersebut, menjadi pertemuan serasi dan juga sejajar lantaran mempertemukan dua pebisnis besar pada waktu itu.
Berkaca dari kisah Nabi Muhammad SAW di atas, dapat menjadi dasar bagi para orang tua, pendidik, dan lembaga pendidikan bahwa kemampuan berwirausaha atau berentrepreneur bukanlah kemampuan yang tiba-tiba datang dari langit, namun merupakan hasil dari didikan, latihan serta pengalaman yang memadukan antara teori sekaligus praktek (langsung). Untuk itulah anak-anak di Indonesia harus ditanamkan spirit enterpreneur sedini mungkin. Terlebih, pesan dari Nabi SAW yaitu jangan sampai kita meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan dhoif (lemah), baik dhoif (lemah) imannya, aqidahnya, akhlaqnya, pendidikannya, maupun hartanya. Kenapa lemah harta juga menjadi titik konsentrasi Nabi SAW, karena kemiskinan sangat dekat dengan kekufuran. Naudzubillah.
Bahkan apabila ditarik dalam konteks yang lebih luas, data menunjukkan bahwa masyarakat yang berentrepreneur masih sangat jauh dari harapan. Di Indonesia, kelompok masyarakat yang bergerak di dunia entrepreneur baru diangka sekitar 1 %, dan bahkan ada yang mengatakan di bawah 1 %. Jauh bila dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang berada diangka 4-5 %, bahkan sangat jauh lagi apabila dibandingkan dengan Korea Selatan, China, atau Jepang yang mencapai angka 8-11 %. Tidak mengherankan bila negara-negara tersebut masyarakatnya hidup sejahtera, dan peluang pekerjaan melimpah sehingga sampai mampu menampung warga negara lain untuk bekerja di sana.
Sementara di Indonesia, angka pengangguran dan kemiskinan terus bertambah setiap harinya. Menurut data dari BPS bulan September 2016 angka kemiskinan mencapai 10% lebih, atau sekitar 27 juta jiwa. Angka sebesar itu tentunya perlu dicarikan solusi, dan tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Peran serta dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk ikut membantu mengurai PR (pekerjaan rumah) besar bangsa ini, sehingga lahirnya entrepreneur-entrepreneur baru menjadi kebutuhan yang mendesak.  Tidak berlebihan bila jihad dalam konteks kekinian salah satunya adalah dengan membuka lapangan pekerjaan.
Realitas di atas membutuhkan keseriusan dari semua pihak agar anak-anak, para pelajar, dan mahasiswa dikenalkan dan diberi ruang untuk mengembangkan kemampuan entrepreneurnya supaya bisa terus berkembang. Mental entrepreneur seperti kreatif, inovatif, dan berani harus ditanamkan dalam proses pembelajaran secara berkelanjutan. Mental pencari kerja dalam diri anak harus dikubur dalam-dalam, sebab sampai saat ini banyak sekali para orang tua dan lembaga pendidikan tanpa sadar justru senantiasa menanamkan mental-mental pencari kerja atau pegawai. Padahal bangsa ini sudah terlalu banyak diisi oleh orang-orang bermental karyawan atau pegawai.
Sudah saatnya kultur baru dibangun dengan membiasakan anak-anak dan para pelajar diberi kail bukan ikan. Bahkan sebisa mungkin, sedini mungkin anak-anak sudah diajari ilmu entrepreneur seperti yang dulu Rasulullah SAW dapatkan. Bagaimana Rasulullah SAW sejak usia 12 tahun ikut berdagang pamannya, dan ikut berdagang (menemani pamannya Abu Thalib) ini termasuk bagian dari proses belajar, training atau sekolah entrepreneur. Sampai akhirnya Rasulullah SAW berani berdagang sendiri (mandiri) dan benar-benar sampai pada titik kesuksesan besar. Apalagi Nabi Muhammad SAW sudah menegaskan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah berasal dari kegiatan perniagaan. Hal ini menunjukkan bahwa 90% pintu rezeki dikuasai oleh para pelaku usaha.
Sekarang saja bisa menyaksikan bahwa dari perputaran uang di Indoenesia, 80-90% dikuasai oleh para pelaku usaha, sebut saja Rudi Hartono, Ciputra, Chairul Tanjung, Abu Rizal Bakrie dan lain-lainnya. Dengan peluang yang masih terbuka lebar, tetapi mengapa masih banyak orang yang takut menjadi entrepreneur? Jawabannya disebabkan entrepreneur adalah dunia (penuh) resiko dan dunia keberanian, makanya tidak banyak orang yang berani melangkahkan kakinya di dunia entrepreneur. Akan tetapi, bukankah hidup ini memang selalu mengandung resiko, dan bukankah hidup ini memang membutuhkan keberanian dalam segala hal. Hanya saja, bagi para pelaku usaha justru menjadikan resiko sebagai seni yang harus dinikmati, sehingga akhirnya memiliki nyali untuk berani mengambil resiko, berani berspekulasi, dan berani mencoba ide-ide baru. Prinsipnya, saat mengalami kegagalan harus tetap bangkit, dan saat sukses harus tetap membumi serta terus memperbaiki kualitas.
Oleh karena itu, kiranya menjadi relevan jika para orang tua mendorong putra-putrinya untuk berani memulai berentrepreneur seperti yang pernah dilakukan Rasulullah SAW agar nantinya mereka sudah memiliki banyak pengalaman dan ilmu (entrepreneur). Dengan demikian, kedepan mereka tidak ke sana kemari untuk mencari pekerjaan, bahkan harapannya mereka akan menjadi penyedia lapangan pekerjaan. Bagi lembaga pendidikan, pertama, sudah saatnya lembaga pendidikan tidak hanya memfokuskan pada kuantitas, infrastruktur, dan nominal semata, tetapi juga mengajari para anak didik supaya melek teknologi, melek bisnis, dan diajari soft skill. Alhasil saat mereka keluar dari sekolah atau kampus mereka sudah siap untuk mandiri. Kedua, sudah saatnya lembaga pendidikan di semua tingkatan menjadikan entrepreneur sebagai ruh dalam semua proses kegiatan belajar-mengajar.

Manakala gerakan entrepreneur mampu menyebar ke semua lapisan masyarakat dari semua tingkatan, sudah barang tentu kesejahteraan Bangsa Indonesia tinggal menunggu waktu. Harus selalu diingat jadikanlah Rasulullah SAW selalu bergembira karena melihat umatnya menjadi golongan yang kuat (termasuk kuat ekonominya). Dengan ekonomi yang kuat, peluang untuk menjadi orang yang bermanfaat akan jauh lebih mudah. Mari jadikan bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk hijrah dan mengawali untuk berani melangkah ke dunia entrepreneur Wallahu ‘a’lam.

*Kaprodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Margoyoso Pati
Pati. Kamis (12/06/2017) Kamilia Hamidah, MA selaku Dosen dan Direktur Peace Promotion IPMAFA mengisi acara talkshow di Radio PAS FM Pati. Acara talkshow ini terselenggara atas kerjasama antara Panitia PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) IPMAFA 2017 dengan Radio PAS FM Pati. Bentuk kerjasama ini adalah berupa mengisi talkshow setiap hari selasa dan kamis selama Bulan Suci Ramadhan 1438 H.

Pada kesempatan kedelapan dihari kamis minggu keempat di Bulan Suci Ramadhan, Kamilia Hamidah mengisi talkshow dengan mengelola kerukunan di masyarakat. Tema ini diambil untuk menjaga kerukunan di tengah pluralitas masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya, dan agama. Spirit ini perlu disebarluaskan mengingat akhir-akhir ini kerukunan di masyarakat agak terganggu akibat polarisasi pasca Pilpres dan Pilkada.
 genalkan spirit entrepreneur Nabi Muhammad SAW yang belum banyak diketahui banyak orang, sekaligus untuk mengenalkan kampus IPMAFA sebagai salah satu perguruan tinggi yang konsen di bidang entrepreneur.
Acara talkshow yang dipandu oleh Ari Fanili dimulai pukul 09.00 WIB, dan pada kesempatan tersebut Faiz Aminuddin mengawalinya dengan menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang sebenarnya bisa diduplikasi oleh siapapun termasuk dalam kesuksesan beliau dalam berdagang, karena kesuksesan Nabi SAW dalam berdagang merupakan buah dari integritas (Al-Amin/trust) yang betul-betul dipegang oleh beliau dalam kondisi apapun. “Ujar alumnus Psikologi Sosial UGM”

Lebih lanjut, menurut Pengasuh Ponpes Shofa Azzahro Gembong Pati ini, sejak usia 12 tahun Nabi SAW sudah ikut pamannya Abu Thalib untuk berdagang, artinya Rasulullah SAW sejak kecil sudah ditanamkan semangat entrepreneur oleh pamannya, dan Nabi SAW pun pada akhirnya mampu menyerap pengalaman berdagangnya dengan sangat baik sehingga dikemudian hari mampu menerapkannya dan menjadi entrepreneur yang sukses.

Sebagai penutup, Dosen Mata Kuliah Psikologi ini menegaskan bahwa apa yang dicontohkan Nabi SAW dalam dunia entrepreneur sudah selayaknya kita tiru, terlebih para ekonom saat ini sudah menuturkan bahwa untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia yang jumlahnya mencapai 10% lebih atau 27 juta lebih jiwa (data dari BPS bulan September 2016) maka perlu memperbanyak entrepreneur-entrepreneur baru. Jangan sampai umat Islam menjadi golongan yang lemah, termasuk lemah ekonominya. “Tutupnya”.


Dengan pembahasan yang menarik tersebut, membuat pada sesi tanya jawab banyak masyarakat yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai tips-tips menjadi pedagang yang sukses menurut cara Nabi SAW. Karena terbatasnya waktu, pada jam 10.00 WIB acara talkshow harus diakhiri, meskipun pertanyaan dari pendengar Radio Pas FM terus berdatangan. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti jalannya talkshow kerjasama antara IPMAFA dengan Radio PAS FM dapat disimak di 101.00 FM jam 09.00-10.00 wib setiap hari selasa dan kamis selama bulan suci ramadhan 1438 H.

Menurut data BPS September 2016, angka kemiskinan mencapai 10% lebih atau sekitar 27 juta jiwa. Angka sebesar itu tentu perlu dicarikan jalan keluar agar kondisi ekonomi masyarakat Indonesia semakin membaik. Tetapi juga perlu dipahami bahwa tidak mungkin harapan itu ditumpukan pada pemerintah saja untuk bisa menyelesaikan itu semua. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam membantu mengurangi besarnya angka kemiskinan tersebut. Skill dan mental kewirausahaan mutlak dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia secara umum.

Pandangan itu disampaikan Faiz Aminuddin MA, Kepala Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) IPMAFA dalam talkshow di Radio PAS FM Pati yang mengangkat tema kewirausahaan, Kamis (08/06/2017). Pembahasan tentang kewirausahaan itu juga diisi narasumber muda Farid Abbad, mahasiswa IPMAFA yang sekaligus penggerak kewirausahaan pemuda desa Kajen Margoyoso Pati. Pembahasan tersebut sesuai tema talkshow yang mengangkat “Kewirausahaan Sebagai Instrumen Kemajuan Bangsa”. Selain ema ini diambil untuk lebih mengenalkan kampus IPMAFA sebagai salah satu perguruan tinggi yang konsen di bidang entrepreneur.

Menurut Faiz, gerakan kewirausahaan harus terus digalakkan kepada masyarakat mengingat angka masyarakat Indonesia yang bergerak di dunia entrepreneur baru diangka 1,25 %. Angka tersebut jauh bila dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang berada diangka 4-5 %, bahkan sangat jauh dengan Korea Selatan, China, atau Jepang yang diangka 8-11 %.

“Untuk itulah, jihad dalam konteks kekinian salah satunya adalah membuka lapangan pekerjaan. Dan kampus IPMAFA bertekad untuk melahirkan sarjana-sarjana yang memiliki spirit entrepreneur. Kita (IPMAFA) sudah pernah menjalin kerjasama dengan pihak Ciputra Jakarta untuk melatih para dosen dan mahasiswa agar memiliki pemahaman dan keberanian dalam mengaplikasikan kewirausahaan.” ujar alumnus Psikologi Sosial UGM itu.

Sementara menurut Farid selaku pelaku usaha menambahkan bahwa dunia entrepreneur adalah dunia keberanian, makanya tidak banyak orang yang berani melangkahkan kakinya di dunia entrepreneur, karena entrepreneurship penuh resiko. “Di situlah letak kenikmatannya. Saya kira para remaja dan para mahasiswa harus berani memulai berentrepreneur agar nantinya mereka sudah memiliki pengalaman berwirausaha, sehingga kedepan mereka tidak ke sana kemari untuk mencari pekerjaan, bahkan kalau perlu justru menjadi  penyedia lapangan pekerjaan.” tuturnya.

Dengan paparannya yang menarik selama talkshow, membuat banyak masyarakat bertanya dalam sesi tanya jawab. Tidak sedikit mereka ingin mendapatkan jawaban terkait kiat-kiat entrepreneurship dan persoalan-persoalan yang dihadapi seorang entrepreneur.

Talkshow ini terselenggara atas kerjasama antara Panitia PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) IPMAFA 2017 dengan Radio PAS FM Pati dan berlangsung setiap hari Selasa dan kamis selama Bulan Suci Ramadhan 1438 H. Talkshow yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dipandu oleh Lensa Azelia dari PAS FM Pati. Bagi mahasiswa dan masyarakat yang ingin mengikuti jalannya talkshow dapat menyimak di 101.00 FM pukul 09.00-10.00 wib setiap hari selasa dan kamis selama bulan suci Ramadhan 1438.


Dalam membangun desa, salah satu prinsip utama yang harus diperhatikan adalah mempertimbangkan kearifan masyarakat lokal. Kearifan ini jangan sampai tercabut dan hilang akibat proses pembangunan. Seringkali ada pandangan bahwa desa yang maju hanya dilihat dari sisi pembangunan fisiknya. Ini merupakan pandangan yang keliru.

Demikian pandangan Dekan Fakultas Dakwah dan Pengembangan Masyarakat IPMAFA, Sri Naharin MSI dalam program Talkshow di Radio PAS FM Pati, Selasa (06/06/2017).

Dosen yang juga aktivis sosial tersebut menyampaikan tema tentang membangun desa tanpa harus mengkotakan desa. Tema tersebut diambil untuk lebih mengenalkan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) IPMAFA dan teknik membangun desa, mengingat saat ini eranya pemerintah adalah nawacita yaitu membangun bangsa melalui desa.

Menurutnya, tujuan membangun desa adalah supaya membawa perubahan lebih baik bagi seluruh komponen masyarakat desa, merata dan tanpa ada kesenjangan serta perpecahan. Dalam membangun desa harus menjadikan masyarakat sebagai subjek, bukan semata-mata menjadi objek pembangunan. Langkah-langkahnya adalah dengan melakukan pengorganisasian sumberdaya lokal, mengajak partisipasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam pembangunan, dan ketiga kolaborasi yaitu kebersamaan semua pemangku kepentingan (stakeholders) baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat.

Dengan paparannya yang menarik selama talkshow, membuat banyak masyarakat bertanya dalam sesi tanya jawab. Tidak sedikit mereka ingin mendapatkan jawaban terkait persoalan desa dan bagaimana upaya proses pembangunan desa yang baik.


Talkshow ini terselenggara atas kerjasama antara Panitia PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) IPMAFA 2017 dengan Radio PAS FM Pati dan berlangsung setiap hari Selasa dan kamis selama Bulan Suci Ramadhan 1438 H. Talkshow yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dipandu oleh Lensa Azelia dari PAS FM Pati. Bagi mahasiswa dan masyarakat yang ingin mengikuti jalannya talkshow dapat menyimak di 101.00 FM pukul 09.00-10.00 wib setiap hari selasa dan kamis selama bulan suci ramadhan 1438 H.
Pati. Selasa (12/06/2017) Faiz Aminuddin MA, Kaprodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) IPMAFA mengisi acara talkshow di Radio PAS FM Pati dengan tema "Rasulullah SAW Merupakan Pedagang Yang Sukses". Tema ini diambil untuk mengenalkan spirit entrepreneur Nabi Muhammad SAW yang belum banyak diketahui banyak orang.

Acara talkshow yang dipandu oleh Ari Fanili dimulai pukul 09.00 WIB, dan pada kesempatan tersebut Faiz Aminuddin mengawalinya dengan menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang sebenarnya bisa diduplikasi oleh siapapun termasuk dalam kesuksesan beliau dalam berdagang, karena kesuksesan Nabi SAW dalam berdagang merupakan buah dari integritas (Al-Amin/trust) yang betul-betul dipegang oleh beliau dalam kondisi apapun. “Ujar alumnus Psikologi Sosial UGM”

Lebih lanjut, menurut Pengasuh Ponpes Shofa Azzahro Gembong Pati ini, sejak usia 12 tahun Nabi SAW sudah ikut pamannya Abu Thalib untuk berdagang, artinya Rasulullah SAW sejak kecil sudah ditanamkan semangat entrepreneur oleh pamannya, dan Nabi SAW pun pada akhirnya mampu menyerap pengalaman berdagangnya dengan sangat baik sehingga dikemudian hari mampu menerapkannya dan menjadi entrepreneur yang sukses.

Sebagai penutup, dosen mata kuliah Psikologi ini menegaskan bahwa apa yang dicontohkan Nabi SAW dalam dunia entrepreneur sudah selayaknya kita tiru, terlebih para ekonom saat ini sudah menuturkan bahwa untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia yang jumlahnya mencapai 10% lebih atau 27 juta lebih jiwa (data dari BPS bulan September 2016) maka perlu memperbanyak entrepreneur-entrepreneur baru. Jangan sampai umat Islam menjadi golongan yang lemah, termasuk lemah ekonominya." tutupnya.

Dengan paparannya yang menarik selama talkshow, membuat banyak masyarakat bertanya dalam sesi tanya jawab. Tidak sedikit mereka ingin mendapatkan jawaban terkait kiat-kiat tips-tips menjadi pedagang yang sukses menurut cara Nabi SAW. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti jalannya talkshow kerjasama antara IPMAFA dengan Radio PAS FM dapat disimak di 101.00 FM jam 09.00-10.00 wib setiap hari selasa dan kamis selama bulan suci ramadhan 1438 H.

Talkshow ini terselenggara atas kerjasama antara Panitia PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) IPMAFA 2017 dengan Radio PAS FM Pati dan berlangsung setiap hari Selasa dan Kamis selama Bulan Suci Ramadhan 1438 H. Bentuk kerjasama dilakukan dalam bentuk talkshow setiap hari Selasa dan Kamis selama bulan suci Ramadhan 1438 H. Forum tersebut juga untuk mengenalkan kampus IPMAFA sebagai salah satu perguruan tinggi yang konsen di bidang entrepreneur.

Talkshow yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dipandu oleh Lensa Azelia dari PAS FM Pati. Bagi mahasiswa dan masyarakat yang ingin mengikuti jalannya talkshow dapat menyimak di 101.00 FM pukul 09.00-10.00 wib setiap hari selasa dan kamis selama bulan suci Ramadhan 1438.