Top News


“Seorang Pengembang Masyarakat itu bukan berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan Pemerintah. Karena ketika Pengembang Masyarakat merencanakan suatu program pengembangan masyarakat dan diajukan kepada dinas pemerintahan maka akan sulit tembus. Namun ketika sudah memiliki bukti nyata maka dengan sendirinya pemerintah akan memberikan dukungan.” tutur Dr Aziz Muslim MPd di hadapan mahasiswa PMI lintas semester dalam Kuliah Umum Prodi PMI, Jumat, (5/10/2018). 

Lebih lanjut dalam pemaparannya Aziz menjelaskan bahwa seorang pengembang masyarakat harus sadar posisinya sebagai partner masyarakat yang senantiasa kerja bersama untuk membantu masyarakat.Selain itu, Aziz dalam materinya menggambarkan begitu jelas prospek lulusan PMI. Diantaranya adalah sebagai seorang wirausaha sosial. Sebagai pengembang masyarakat tentu dituntut memiliki kreatifitas, mampu memberdayakan orang untuk membuat produk dan memasarkan, sehingga bisa mengangkat perekonomian masyarakat.

“Ekonomi kreatif saat ini adalah bagaimana kita punya kreasi, memberdayakan orang untuk membuat itu, dan melakukan pemasaran yang menarik. Sehingga antara masyarakat dan anda sebagai pengembang masyarakat saling membutuhkan.” tambahnya.

Selain kreatifitas, seorang wirausahawan sosial juga harus peka dengan keadaan sekitar. Ia dapat melihat suatu hal yang menjadi masalah dan dengan bekal pembelajaran di bangku kuliah mampu mencarikan solusi yang berdampak positif bagi masyarakat.

Dengan demikian, seorang pengembang masyarakat akan selalu berinovasi dan mengasah kreatifitasnya untuk melihat peluang yang ada. (fiq)


Ipmafa, Rabu (03/10/2018) Suasana kelas mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) semester V sangat ramai dan ceria. Hal ini karena kegiatan perkuliahan sedang berlangsung simulasi mata kuliah Participatory Rural Appraisal.

Kegiatan simulasi ini bertujuan untuk membentuk kemampuan fasilitasi kegiatan untuk mahasiswa PMI. Kemampuan fasilitasi ini sangat diperlukan untuk bisa mendorong partisipasi masyarakat dalam melakukan identifikasi masalah dalam perencanaan pembangunan.

Menurut Joko, mahasiswa yang bertugas sebagai fasilitator dalam simulasi ini menyatakan perkuliahan ini cukup mengasyikkan. “Dengan perkuliahan yang seperti ini, saya bisa belajar melakukan pendampingan masyarakat dalam penggalian masalah”. Kegiatan praktek seperti ini diperlukan untuk bisa memberikan kemampuan secara komprehensif antara kemampuan analisis secara teoritis dan skill fasilitasi secara praktek.

Melihat Kisah Abdul Karim, Juara I Pemuda Pelopor Kesadaran Lingkungan Kabupaten Pati 2018, Penggagas Komunitas Resik Apik di Desa Kajen.


Karim memang pemuda yang tak gampang menyerah. Untuk mengabdikan diri mengelola sampah di desanya sendiri, dia harus tabah menerima cibiran dari tetangga. Dia dijuluki si pemuda sampah karena kegigihannya mengajak warga supaya ikut program resik apik.

Karim masih ingat betul bagaimana dia banyak dicibir tetangganya. Pemuda 23 tahun itu sempat dipanggil si pemuda sampah oleh sebagian besar tetangganya waktu itu. Namun Karim tetap tabah. Dia pantang menyerah, demi untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat Kajen menjaga lingkungan sekitar.


”Dulu Kajen terkenal kotor. Bahkan boleh dibilang kumuh,” kata Karim. Hal tersebut lantaran, desa yang terkenal dengan puluhan pondok pesantrennya ini sesak oleh bangunan beton beserta manusianya.

Selain itu desa ini juga menjadi tempat ngalap berkah dari berbagai daerah, yang menziarahi tokoh penyebar Islam Syeh Ahmad Mutamakkin. Kedatangan banyaknya peziarah tentu memunculkan sampah. Seperti diketahui, manusia adalah penghasil sampah.

”Keprihatinan tersebut, lantas membuat saya dan teman-teman waktu itu berfikir. Bagaiamana caranya berbuat. Supaya masalah lingkungan ini bisa diatasi,” papar Karim.

Lalu muncullah ide. Membuat komunitas, namanya resik apik. Komunitas itu digawangi pemuda-pemuda.  ”Sekitar tahun 2016, komunitas ini terbentuk,” imbuh pria yang tinggal di Desa Kajen RT 3 RW 2 ini. Saat itu kegiatannya adalah pengangkutan sampah.

Anggota komunitas tersebut menyediakan jasa membuang sampah kepada warga. Pertama kali terjun, tantangan banyak sekali. Tak sedikit yang mencibir memang. ”Namun kami semua tak patah semangat. Kegiatan terus kami lakukan, hingga akhirnya masyarakat bisa menerima. Kini hampir 90 persen masyarakat Kajen menyerahkan sampahnya untuk dikelola di kami,” imbuh Karim.

Jadikan Sampah Menjadi Berkah

Tak hanya itu, karim bersama kawan-kawannya juga berusaha membuat masyarakat bisa untung dengan sampah. ”Kami mencoba menghadirkan sampah menjadi berkah. Bukan lagi sebagai sebuah masalah,” kata mahasiswa Pemberdayaan Masyarakat Islam IPMAFA Pati ini.

Caranya, lanjut Karim, didirikan bank sampah. Warga kami ajak menabung sampah. Dengan begitu, mereka tak hanya membuang sampah begitu saja. Namun sampahnya bisa dirupiahkan. ”Dengan begitu masyarakat menjadi senang,” kata pemuda yang aktif di Karang Taruna Sumohadiwijayan Desa Kajen ini.

Bahkan, kedepan Karim beserta rekan-rekannya menyiapkan program untuk pemberdayaan masyarakat lainnya. Karim merencanakan akan mendorong warga Kajen untuk menanam.

”Meskipun di Kajen tak ada lahan bercocok tanam, dan pekarangan, namun kami akan mendorong untuk memakai hidroponik. Ya biar masyarakat bisa menanam sayur-sayuran begitu. Kami akan fasilitasi pupuk. Kebetulan bank sampah kami juga ada pengolahan sampah organik. Kami bisa menghasilkan pupuk cair dan juga pupuk padat,” imbuh Karim.

Berbagai kiprah mengenai sampah tersebut lantas membuat Karim diganjar penghargaan. Karim pun menjadi pemuda pelopor 2018 dari Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Pati beberapa waktu yang lalu. Dengan begitu, dirinya berhak maju di ajang yang digagas Kementrian Pemuda dan Olahraga itu ke tingkat provinsi bulan depan. (Achmad Ulil Albab)

Sumber: http://www.lingkarmuria.com

Maela Husna, perempuan kelahiran kota santri Kajen ini dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah berteman dengan siapa saja. Dia aktif sebagai Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati sejak 2016. Dengan sikapnya yang ramah ini dia tidak mengalami banyak kendala ketika melakukan pendampingan di masyarakat. 
“ Bagi saya, bekerja sebagai Pendamping Masyarakat sangatlah menyenangkan, karena berada ditengah-tengah masyarakat saya merasa bahagia bisa memahami suka-duka kehidupan mereka”.
(Alumni PMI IPMAFA 2013).




Izzah Laily adalah pendamping desa tingkat Kecamatan di wilayah kerja Kec. Wedarijaksa. Perempuan yang akrab dipanggil Izzah ini mulai melakukan pendampingan sejak Januari 2016. 

Dia menuturkan bahwa bekerja sebagai pendamping desa yang berada di tengah-tengah masyarakat harus memiliki kemampuan dan skill pemberdayaan masyarakat. Kedua kemampuan ini menurutnya telah dia dapatkan ketika kuliah di Prodi Pengembangan Masyarakat Islam IPMAFA.





Soejianto adalah Koordinator Kecamatan Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Blora. Sebagai seorang Pendamping Sosial PKH kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat merupakan hal yang wajib. Namun hal ini oleh alumni PMI IPMAFA 2013 ini tidak menjadi masalah yang berarti. 
“Saya sudah terbiasa berbaur dengan masyarakat, karena sejak saya kuliah di PMI IPMAFA dulu banyak kuliah lapangan bersama masyarakat”
Soejianto. (Alumni PMI IPMAFA 2013).