Top News



“Salah satu pesan Nabi Muhammad SAW yang dapat kita jadikan penyemangat adalah jangan sampai umat Islam itu lemah baik itu ilmunya, fisiknya, maupun ekonominya” tutur Faiz Aminuddin MA saat mengisi Ngaji Kepemudaan di Masjid Darussalam Desa Purworejo dalam rangkaian acara Gebyar Kepemudaan Desa Purworejo (7/12/2017). Forum kepemudaan tersebut mengangkat tema “Spirit Pemuda memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW”.

Acara diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) bekerjasama dengan beberapa komunitas Pemuda Desa Purworejo meliputi Karang Taruna, Ikatan Pemuda Masjid Darussalam (IPMD), ANSOR, dan Orang Indonesia (OI).

Pada pemaparannya Faiz mengajak pemuda untuk bangkit dari zona nyaman. Pemuda harus bergerak dan semangat mengasah kreatifitas untuk mencapai kesuksesan. “Anak Pemuda harus bergerak dan kreatif karena sukses itu hak semua orang”, tuturnya.

Lebih lanjut Faiz mengajak pemuda untuk meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW yang gemar berwirausaha. Menurutnya Jihad dalam konteks kekinian adalah membuka lapangan pekerjaan untuk menuntaskan kemiskinan.

“Allah memberi kesempatan hidup sampai pada saat ini untuk kita semua jadi orang yang sukses, sukses menurut Kanjeng Nabi tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga di akhirat.”, pungkasnya (Fiq)

Entrepreneur sejati tidak sekedar berjualan, tapi bagaimana menambah nilai dari suatu barang dengan inovasi produk, pemasaran, dan proses” tutur Ibu Sri Naharin MSI saat mengisi pelatihan Kewirausahaan di Balai Desa Purworejo dalam rangkaian acara Gebyar Kepemudaan Desa Purworejo (4/12/2017). Forum kepemudaan tersebut mengangkat tema “Spirit Pemuda memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW”.
Acara yang diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) ini bekerjasama dengan beberapa komunitas Pemuda Desa Purworejo diantaranya Karang Taruna, Ikatan Pemuda Masjid Darussalam (IPMD), ANSOR, dan Orang Indonesia (OI).
Sebelum pemaparan materi pelatihan kewirausahaan, Ismunardi SH selaku Kepala Desa Purworejo memberikan sambutan sekaligus cerita singkat perjalanannya berwirausaha untuk memantik para pemuda semangat dalam membangun usaha.
“Mungkin dahulu kalau saya hanya puas dengan bekerja sebagai kuli pada perusahaan tepung tapioka milik paman saya, maka saya tidak akan seperti saat ini yang memiliki perusahaan tepung tapioka sendiri”, paparnya
Lebih lanjut pada pemaparan materi, Naharin mengajak peserta untuk mengikuti jejak Ismunardi sebagai pelaku perintis usaha dari awal sampai mapan dengan memulai dari keberanian mengambil peluang dan kekuatan menghadapi tantangan. Beberapa yang menjadi penekanan dalam materi ini berkaitan dengan cara mengumpulkan gagasan atau ide untuk memulai bisnis yang dapat ditemukan dengan melihat suatu hal disekitar kita.
“Ide awal berwirausaha dapat kita temukan melalui empat sumber: dari jejaring keluarga serta teman dan keahliaan yang kita miliki, dari permintaan yang tak terpenuhi atau tak terpenuhi dengan baik atau pasokan yang di bawah standar, dari eksplorasi masalah-masalah yang diubah jadi peluang, dan dari hasrat terbesar passion seseorang yang kemudian dikembangkan jadi solusi kreatif untuk memecahkan masalah pelanggan”, terangnya.

              Di akhir paparan, Naharin menggambarkan dua klasifikasi manusia dalam mengarungi kehidupan melalui cerita fiktif ikan hiu yang berada pada aquarium dan hiu yang berada pada lautan bebas. Hiu yang berada pada aquarium akan memiliki kondisi berbeda jauh dari hiu di lautan, karena hiu aquarium akan hidup pada kondisi nyaman dengan makanan yang ada setiap dia membutuhkan tanpa hantaman kompetisi dengan hiu lain. Sedangkan hiu lautan bebas akan mengasah otak sedemikian runcingnya untuk menghadapi kompetisi keras setiap detik. Jika kita merasa berada seperti hiu Aquarium maka mulailah untuk keluar dari zona nyaman untuk menemukan jati diri sesungguhnya, telebih dalam membangun jiwa berwirausaha. (fiq) 



Manajemen organisasi adalah bagaimana seseorang dapat membaca peluang dan membuat kegiatan jangka panjang yang dinamis agar organisasi tetap hidup. Untuk itu penting adanya rasa memiliki terhadap organisasi sebagai langkah membangun komunitas dan memupuk kepedulian terhadap masalah yang ada di desanya sendiri.
Demikian Tutur Kamilia Hamidah MA saat mengisi pelatihan organisasi di Balai Desa Purworejo dalam rangkaian acara Gebyar Kepemudaan Desa Purworejo (3/11/2017). Forum kepemudaan tersebut mengangkat tema “Spirit Pemuda memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW”.
Acara yang diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) ini bekerjasama dengan beberapa komunitas Pemuda Desa Purworejo diantaranya Karang Taruna, Ikatan Pemuda Masjid Darussalam (IPMD), ANSOR, dan Orang Indonesia (OI).
“Sangat penting dibangun dalam sebuah organisasi adanya sense of belonging yakni rasa memiliki. Karena pemuda yang tidak mempunyai rasa kepemilikan terhadap Desa sendiri maka dia tidak peduli dengan adanya pemuda yang mabuk-mabukan atau sampah yang berserakan di Desanya” Terangnya.
Kamilia mengajak peserta memahami organisasi secara ringan untuk kemudian mempraktekkan. Pemahaman sederhana yang coba ditanamkan pada pelatihan ini melalui pembagian peserta dalam enam kelompok dan di tiap kelompoknya merencanakan konstruksi suatu organisasi dengan klasifikasi nama organisasi yang akan dibuat, cita-cita apa yang dicanangkan, suatu hal yang dapat dibanggakan, dan apa saja yang sudah dimiliki dan apa saja yang sudah dilakukan.
Antusiasme peserta sangat terlihat saat sesi praktek melalui pembagian kelompok, dengan memenuhi semua klasifikasi yang telah dicanangkan untuk kemudian dipresentasikan di depan. Misalnya dari kelompok tiga yang ingin mendirikan organisasi JAWA NOW karena mereka merasa ingin menjaga budaya jawa di tengah arus globalisasi , dan kebetulan dari mereka memiliki ketertarikan dalam kebudayaan beserta keunggulan lain yang mereka miliki untuk upaya mereka memenuhi cita-cita organisasi.(Fiq)


Pati (14/10/2017) "Focus Grup Discusion (FGD) merupakan diskusi kelompok terfokus dalam suatu proses pengumpulan informasi mengenai suatu masalah dengan spesifik pada suatu desa", tutur Nur Khoiriyah MA dalam simulasi proses FGD pada mata kuliah Participatory Rural Appraisal (PRA). 

Teknik ini menjadi inti dalam Program Studi (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) mengingat dalam proses pemberdayaan masyarakat kita harus mengetahui kondisi atau permasalahan yang dihadapi oleh suatu desa sehingga ini merupakan salah satu langkah awal dari pemetaan sosial (sosial maping).


Lebih lanjut Khoir membekali mahasiswa agar dalam proses FGD, pegiat sosial harus menggunakan bahasa yang dapat diterima masyarakat. "Gunakan bahasa fasilitator yang dapat memahamkan masyaraakat", tuturnya.


Siti Nihayatul Maunah selaku mahasiswa yang bertugas menjadi fasilitator mengaku sangat terbantu dengan adanya simulasi ini karena dapat menjadi wadah untuk belajar, karena menghadapi masyarakat yang beragam butuh kedisiplinan dan kepekaan yang tinggi . (Rofiq)

Pati, (28/9/2017) Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Prodi PMI) Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) dan HMPS PMI IPMAFA mengadakan acara Mujahadah & Maulidurrasul dalam rangka memperingati milad Prodi PMI ke-9 (8 Muharrom 1439 H).

Acara yang bertempat di auditorium IPMAFA ini diisi oleh Bapak Faiz Aminuddin MA, Kaprodi PMI dan dihadiri puluhan mahasiswa PMI lintas semester.

Pada sambutannya Bapak Faiz berharap agar semua pihak yang terlibat dalam Prodi PMI mendapatkan ilmu yang barokah dan bermanfaat. Ia juga berpesan agar para mahasiswa PMI tetap semangat sebagai kader pengembang masyarakat.

Acara mujahadah dikemas dalam serangkaian dzikir bersama dan Maulidurrasul SAW dengan iringan rebana Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jqh El-Mafa Ipmafa.

Margoyoso, Pati. Kamis (14/09/17) Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Kajen Pati mengadakan acara sarasehan yang bertema “Mengenal PMI Untuk Menata Masa Depan”. Bertempat di aula IPMAFA lantai II, puluhan mahasiswa-mahasiswi yang terdiri dari mahasiswa baru maupun perwakilan mahasiswa PMI lintas angkatan sampai perwakilan para alumni kumpul jadi satu untuk menjadikan Prodi PMI sebagai wadah penguatan intelektual maupun sebagai wadah kebersamaan.

Tujuan digelarnya sarasehan ini dalam rangka memberikan penjelasan mengenai sejarah lahirnya PMI IPMAFA kepada para mahasiswa khususnya para mahasiswa baru di Prodi PMI IPMAFA. Selain itu, membekali para mahasiswa agar nantinya memahami apa yang harus dilakukan sebagai mahasiswa PMI dan kontribusi apa yang harus diabdikan kepada masyarakat.

Sebagai pemateri dalam sarasehan tersebut adalah Faiz Aminuddin, MA selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) PMI IPMAFA. Dalam kesempatan itu, Kaprodi PMI IPMAFA mencoba merefleksikan sejarah lahirnya Prodi PMI di IPMAFA. Di mana latar belakang pendirian Prodi PMI di IPMAFA dilandasi dan diawali oleh kegiatan pengembangan masyarakat yang telah dilakukan oleh Pesantren Maslakul Huda Kajen Margoyoso Pati yang diasuh oleh almaghfurlah KH. Sahal Mahfudz mantan Rois Am PBNU melalui Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM) di era 80-an. KH. Sahal Mahfudz sendiri merupakan pendiri dari Institut Pesantren Mathali’ul Falah atau diawal berdiri masih bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (STAIMAFA) Margoyoso Pati Jawa Tengah.

Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat yang dimiliki oleh Pesantren Maslakul Huda telah berhasil memberikan dampak positif melalui bantuan pelatihan, modal dan pendampingan kepada masyarakat tidak mampu. Banyak masyarakat yang dulu kualitas ekonominya rendah berhasil menjadi simpul-simpul ekonomi baru di desanya. Dengan jangkauan pergerakan biro ini yang semakin berkembang dan keberadaannya semakin dirasakan oleh masyarakat luas, menyadarkan stake holders di lingkungan pesantren di Kota Santri Kajen Pati akan pentingnya sumber daya manusia yang cakap di bidang pemberdayaan masyarakat.

Lebih Lanjut, Ketua LTN PCNU Kab. Pati ini juga menambahkan bahwa, untuk itulah saat Perguruan Tinggi IPMAFA akan didirikan, maka munculah gagasan untuk memasukkan salah satu prodi yang memiliki concern pada ranah pemberdayaan masyarakat. Karena para stake holder sudah memahami ternyata pemberdayaan masyarakat memiliki pengaruh cukup besar dalam memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat baik di masa kini maupun di masa yang akan datang, sehingga perlu kiranya memperbanyak kader-kader pemberdaya masyarakat dengan harapan spirit pemberdayaan bisa menyebar kemana-kemana sehingga masyarakat dapat meningkat kualitas kehidupannya.

Akhirnya, para pendiri IPMAFA termasuk KH. Sahal Mahfudz melalui musyawarah yang mendalam sepakat untuk memasukkan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam sebagai langkah untuk mencetak kader-kader pemberdaya masyarakat yang nantinya dapat menyebarkan dan melanjutkan kiprah serta spirit dari Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat yang dirintis oleh KH. Sahal Mahfudz. Tujuan utamanya yaitu membangun sumber daya manusia yang cakap dan terampil dalam memberdayakan masyarakat dengan berbasis nilai-nilai pesantren. “Tutupnya”.


Sebelum ditutup, di sesi akhir sarasehan semua peserta yang hadir memperkenalkan diri sebagai simbol persaudaraan, semua mahasiswa-mahasiswi yang hadir berdiri satu per-satu untuk memperkenalkan diri dengan penuh kekeluargaan, dan semua peserta dari awal sampai akhir tampak antusias mengikuti sarasehan dari Prodi PMI IPMAFA.