Pada hari kedua, 22 Februari 2025, kegiatan berlanjut dengan kunjungan ke Museum Batik Sudewi. Mahasiswa diberi pemahaman tentang sejarah batik Bakaran, filosofi batik, serta teknik-teknik membatik yang diwariskan turun-temurun. Tak hanya itu, mahasiswa juga berkesempatan untuk mempraktikkan langsung proses membatik.
Bapak Bagiyo, salah satu pengelola Batik Bakaran, menjelaskan bahwa dalam proses membatik dibutuhkan ketekunan dan etos kerja yang tinggi. "Proses membatik terdiri dari 12 langkah, mulai dari menggambar motif hingga proses pemprosotan. Setiap tahap membutuhkan keahlian dan ketelitian, dan hasilnya adalah batik berkualitas yang siap bersaing di pasar nasional bahkan internasional," ujarnya.
Marfu’ah, Ketua Panitia Sekolah Pemberdayaan, menyatakan bahwa kegiatan SP kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. "Tahun ini kami fokus pada kegiatan membatik, dengan tujuan untuk mengeksplorasi potensi mahasiswa dalam bidang budaya batik," jelasnya. Ia berharap, melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dan memperluas wawasan tentang dunia budaya batik.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih mengenal dan melestarikan warisan budaya Indonesia, khususnya batik, serta mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam dunia pemberdayaan masyarakat.
0 Comments