Metode kerja "doing for" menjadikan masyarakat pasif dan bergantung pada bantuan baik dari pemerintah maupun organisasi sukarela. Sebaliknya, metode kerja "doing with" dapat merangsang masyarakat menjadi aktif dan dinamis. Di sini, setiap fasilitator pengembangan masyarakat dituntut untuk bisa memilih metode yang tepat dalam kegiatan pengembangan agar masyarakat bisa berperan aktif.
Demikianlah diskusi mahasiswa Fak.Dakwah Ipmafa pada Selasa, 1 Maret 2016 kemarin. Diskusi yang didampingi oleh Faiz Aminuddin, Kaprodi PMI, ini menguraikan bahwa untuk dapat memilih metode yang tepat maka fasilitator dapat menggunakan Participatory Rural Appraisal (PRA), yaitu sebuah metode pemahaman lapangan dengan cara belajar pada masyarakat untuk mengetahui, menganalisa dan mengevaluasi hambatan untuk kemudian menentukan keputusan sesuai kebutuhan masyarakat.
Dalam PRA ada beberapa teknik dalam mengumpulkan dan menganalilis data. Teknik ini dirangkum oleh narasumber dalam 3 metode meliputi Direct Observasion, Focus Group Discussion (FGD) dan Preference Rangking and Scoring.
Direct Observasion merupakan kegiatan observasi langsung pada obyek tertentu dan keadaan yang terjadi dimasyarakat. Hal ini dilakukan setelah mengumpulkan sumber informasi dari review data sekunder dan wawancara semi terstruktur yang dapat terwakili oleh pihak-pihak terkait. Tujuan dari teknik ini untuk melakukan cross-check terhadap jawaban masyarakat.
Kemudian Focus Group Discussion (FDG) merupakan diskusi kelompok yang terfokus antara beberapa orang untuk membicarakan hal-hal yang bersifat khusus secara mendalam. Tujuannya untuk mendapat gambaran terhadap suatu permasalahan tertentu secara lebih rinci.
Sedangkan Preference Rangking and Scoring adalah tektik untuk menentukan secara tepat problem utama masyarakat dengan analisa direct matrix rangking yang mengidentifikasi daftar kriteria obyek tertentu seperti kenapa beberapa orang lebih senang menanam jagung sedang beberapa yang lain senang menanam ketela. Kasus lain seperti memberi peringkat kesejahteraan, pemetaan sosial sebagai gambaran kondisi sosial, kalender musim, sejarah, analisa mata pencaharian, dan diagram venn untuk mengetahui hubungan institusional dengan masyarakat serta menganalisa kecenderungan dan perubahan yang terjadi dimasyarakat dalam jangka waktu tertentu.
Di akhir sesi forum diskusi berkesimpulan bahwa fasilitator pengembangan masyarakat dituntut jeli dalam memilih metode yang sesuai dan menjalin hubungan baik terhadap warga agar dapat bersatu untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi dimasyarakat.

Reporter : Intan Larasati, Siti Nihayatul Ma'unah dan Ibnul Barik Nur.


Share To:

Post A Comment: