Beberapa bulan terakhir nama Dimas Kanjeng rame menghiasi media seantero negeri, baik media cetak maupun elektronik. Hal itu disebabkan oleh kemampuan dia yang “dipercaya” dapat menggandakan uang, dari satu juta dapat menjadi sepuluh juta, dari sepuluh juta bisa menjadi satu milyar, bahkan sampai dapat menggandakan uang asing.

Hanya saja, “kesaktian palsu” Dimas Kanjeng lama-kelamaan mulai terbongkar karena praktek penggandaan uang yang dilakukannya selama ini ternyata penipuan. Meskipun demikian, fakta menunjukkan korban dari Dimas Kanjeng ada di mana-mana, hampir disemua provinsi ditemukan korban Dimas Kanjeng. Jumlahnya pun tidak sedikit, sekalipun tidak ada angka pasti namun diprediksi mencapai ribuan orang di seluruh Indonesia.

Parahnya lagi, di antara nama-nama pengikut Dimas Kanjeng terdapat juga nama tokoh nasional yang memiliki riwayat pendidikan yang mumpuni, lulusan salah satu kampus ternama di Amerika. Artinya, melihat realitas yang ada dapat dikatakan bahwa rasionalitas masyarakat Indonesia sedang mengalami kelabilan. Hal demikian dapat dibuktikan dengan terus berulangnya kejadian demi kejadian yang hampir sama, dan selalu saja banyak yang percaya dan menjadi korban. 

Untuk itulah, fenomena tersebut menarik untuk dikaji dalam diskusi bulanan yang diadakan oleh Prodi PMI IPMAFA (01/11/16). Diskusi tersebut membahasa fenomena masyarakat Indonesia yang begitu mudah terjebak dalam iming-iming semu, sesuatu yang tidak masuk akal atau irrasional. Sampai-sampai para pengikut Dimas Kanjeng meyakini kalau Taat Pribadi adalah orang yang mempunyai karomah seperti yang dimiliki oleh para wali. Sikap-sikap yang tidak wajar inilah yang menjadi bahan perenungan kita bersama.

Sebagai narasumber Faiz Aminuddin, MA menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia itu secara umum layaknya daun kering. Mereka mudah terbawa arus, mudah terbawa isu, mudah terprovokasi dan mudah terdoktrin. Tidak mengherankan bila hampir semua aliran-aliran baru atau aliran-aliran “nyeleneh” dengan ajaran yang tidak jelas rimbanya tetap saja dipercaya dan memiliki pengikut yang jumlahnya tidak sedikit.

Lebih lanjut, menurut Kaprodi PMI ini terdapat beberapa faktor yang menyebabkan banyaknya orang yang tertarik menjadi pengikut Taat Pribadi. Pertama, iman yang lemah, harus diakui bahwa jumlah masyarakat yang awam lebih banyak mendominasi masyarakat kita, banyak yang mengaku Islam namun tidak lebih hanya sekedar pengakuan lisan saja, tidak sampai pada maturation.

Kedua, tradisi animisme dan dinamisme yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya di bumi Nusantara, dan pengaruhnya masih terus menghinggapi sebagian masyarakat. Untuk itulah, bisa dirasakan sampai sekarang pengaruhnya, di mana kepercayaan terhadap hal-hal mistis atau adanya kekuatan-kekuatan mistis yang dihasilkan dari benda-benda tertentu masih banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat kita.

Ketiga, budaya pragmatis yang menjangkiti masyarakat Indonesia, semisal pengen kaya tetapi tidak mau kerja keras. Keempat, kemiskinan yang masih diangka sangat besar, dan ini terus menjadi PR besar bangsa Indonesia mengingat kemiskinan akan mendorong seseorang untuk rela bertindak di luar batas kewajaran. Kelima, masyarakat yang apatis dan permissive, sekarang ini masyarakat Indonesia sudah berperilaku ke arah individualis, budaya untuk saling mengingatkan sudah langka ditemukan.

Sebagai penutup, alumnus Psikologi Sosial UGM ini memaparkan bahwa keadaan ini harusnya menjadi pelajaran bagi para tokoh agama bersama-sama dengan pemerintah untuk terus menerus mengedukasi masyarakat supaya akidahnya dapat kokoh sehingga ke depan apabila terjadi kejadian serupa mereka tidak akan mudah untuk mengikuti orang dan ajaran-ajaran yang sesat.
Share To:

Post A Comment: